.: the journey of my life :.

self existence 15 January 2011

Filed under: blablabla,contemplation — gamma @ 3:08 am

Gw ngerasa selama ini dah berusaha jadi orang yg independen. Mencoba ga terlalu tergantung orang lain. Sehari-hari sekarang juga nyoba ngerjain apapun sendiri. Urusan farzan, urusan blanja rumahtangga, urusan dagang kue, sejauh ini masih mencoba meminimalisir ketergantungan dengan orang lain. Kalau menyangkut ketergantungan ’ke luar’, kayanya gw udah berusaha banget biar bisa mjd cukup mandiri.

Tapi ada pe-er dari swami gw. Dia selama ini terus selalu mengingatkan, kalo sebisa-bisanya hidup jangan pernah tergantung orang lain, even ke pasangan kita sendiri. Karena pada akhirnya nanti, kita toh akan hidup sendirian. Entah ditinggal selamanya oleh orang tua kita, pasangan kita, atau oleh anak-anak kita. Yupp, ketergantungan ’ke dalam’, dalam hal ini ketergantungan thd pasangan hidup kita, orang yang paling dekat dg kita.

Nah bagian ini yang masih gw coba tata. Karena , harus diakui, emang comfort zone sebagai seorang istri –apalagi yang udah resign kaya gw gini- adalah segalanya udah ditanggung suami. Memaang, itu tugas dan kewajiban suami. Tapi kita juga gak akan pernah tahu kan seberapa panjang umur yang Tuhan berikan pada kita, pada keluarga kita, pada pasangan kita. Kalau misalnya, hanya misalnya, esok kita dipisahkan selama-lamanya dengan pasangan kita, apa kita siap? Kalo dalam posisi gw sebagai istri, apakah gw siap sewaktu-waktu ditinggal oleh swami gw, sang tulang punggung keluarga ini? Sedangkan pe-er bwt dia, apakah dia juga siap sewaktu-waktu harus berperan sebagai ibu dari farzan?

Walaupun sekarang peranan gw udah jadi fully homemaker bgini, gw pengen tetep ada bagian dari diri gw untuk bisa tetep punya eksistensi. Jangan sampai gw lupa gimana caranya menghidupi diri sendiri, bahkan dgn kondisi sekarang malah harus bisa ngehidupin farzan juga. Jangan sampai gw membiarkan diri gw stuck dengan sgala urusan domestik dan ga update dengan dunia luar. Jangan sampai gw terlena untuk ga terus berusaha upgrading kemampuan gw. Jangan sampai gw terbiasa untuk segala-galanya minta ama swami (yeaah,yang ga selalu dikabulkan juga ituh :p), terbiasa ngegantungin mimpi dan harapan semua ke pundak dia, juga terbiasa semuanya disediain ama dia.

Hanya ingin mengingatkan diri sendiri, jangan sampai gw hanya ’Seseorang istrinya Fadi’ dan ’Seseorang mamanya Farzan’, sampai-sampai gw lupa ’Yap, gw Gamma’.

Hanya ingin menata diri, berusaha menjadi lebih secured secara eksistensi.

Hanya ingin tetap memiliki kemampuan survival, kembali ke esensi hidup masing-masing as an individual, bilamana keadaaan mengharuskan demikian.

Just my 2 cents..

*lagi serius* :D

 

2 Responses to “self existence”

  1. ultimavie Says:

    Terhanyuttt sekali membacanya… :D
    Memang sudah kodrat manusia itu diciptakan saling membutuhkan, tp ini bukan berarti kita terus ketergantungan even mungkin dengan pasangan kita. Karena gimanapun kita ini pada ahirnya akan sendiri, sewaktu kita lahir juga kan sendiri, maka “pulang” juga pasti sendiri *haiyahhh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.