Lagi pengen sharing ttg suatu artikel yang kubaca di harian Kompas akhir minggu. Artikel ini berbicara mengenai profil potret realita yang sangat menarik perhatianku, dan sangat bikin trenyuh bacanya.
Judul artikel ini cukup catchy : ‘Mak Eros, Pernah Melahirkan 25 Kali’. Hmm, tnyt ini menceritakan ttg kisah Bu Eros, yang di usianya yang 58 th, dia telah mengalami proses melahirkan anak2nya sebanyak 25 kali! Yang sangat menyentuh hati, saat ini, guna menghidupi keluarga (sangat) besarnya itu, suaminya yang berprofesi sebagai tukang becak hanya berpenghasilan 5 ribu sehari! *whoow..* . Guna menunjang suaminya, Bu Eros bekerja sebagai penjaja kue yang bekerja dari pagi buta hingga senja hari dengan berjalankaki belasan kilometer setiap harinya. Sehingga Bu Eros bisa menambah penghasilan skitar 15 ribu rupiah per harinya. Jumlah sgitu hanya cukup untuk biaya hidup hari itu saja *boro-boro nabung, kadang juga ngutang*, yaitu untuk membeli 5 liter beras untuk semua anggota keluarganya, yang makan hanya dengan nasi berbumbu kecap plus kerupuk!
Saat ini, dari ke-25 anak yang dilahirkannya, yang berhasil ‘survive’ ada 18 anak. Dengan rentang anak sulung berusia 25 th, dan anak bungsunya berusia 3 th. Ketujuh anak yang lain meninggal di usia balita disebabkan karena gizi buruk. Semuanya hidup berdesakan di rumah gubuknya yang berukuran 5×6 meter persegi, dengan 4 orang anaknya yang sudah menikah pun tetap tinggal bersama dan beranakpinak di situ, sehingga saat ini ada 4 kepala keluarga ,Bu Eros, 18 anak, 3 menantu, dan 6 cucu yang hidup bersama ; dan menjadi tanggungan hidup Bu Eros!!
Pernah pas kelahiran anak ke-5nya pada pk.1 dini hari, beberapa jam berikutnya Bu Eros udah langsung bekerja menjajakan kue! Bagi dia, bekerja keras merupakan tuntutan untuk bisa melangsungkan kehidupan keluarganya. *huaduuhhh, nyeri deh ngebayanginnya..*
Gemes ya rasanya pas baca, “Kalo ga mampu, kenapa sih bikin anak terus?!”, awalnya aku sangat terusik dg pertanyaan itu. Ternyata, stlh kelahiran anak ke-7, Bu Eros pernah mencoba mengikuti program KB sesuai anjuran mantri kesehatannya, dengan mencoba pil KB. Ternyata bermasalah.. Dan kemudian beralih mencoba KB suntik ,yang ada dia malah tergeletak sakit karena badannya bereaksi dan tidak bisa cocok dengan suntikan KB itu. Jadilah dia kehilangan kesempatan mencari nafkah selama beberapa hari, anak2nya jadi tertelantarkan, plus dia harus keluar ongkos berobat ke puskesmas! Itulah sebabnya Bu Eros enggan utk mencoba ber-KB lagi..Hhhmpph…
Bagaimana dengan nasib pendidikan anak2nya? Tentunya dengan kemampuan hidup yang sangat pas-pasan ini, pendidikan udah jadi prioritas yang kesekian. Hanya satu orang anaknya yang berhasil mengenyam pendidikan sampai kelas 6 SD. Sisanya hanya bisa disekolahkan hingga kelas 3 SD, digantikan posisinya dengan adik-adik yang udah mengantri setelahnya. Pokoknya asal udah bisa baca tulis, bagi mereka udah cukup pendidikannya…
…………………………
Wiiuw, itulah kenyataan di sekitar kita, sodara-sodara..Dengan setting potret realitas Bu Eros ini terletak di suatu desa di Kab. Purwakarta, yang notabene belum jauh2 amat ini dari pusat pemerintahan negeri kita, apa kabarnya potret kesenjangan sosial ini pada sodara-sodara kita di belahan pelosok kepulauan negeri kita inii..?! Isu kesenjangan sosial, isu pendidikan tertinggal, isu pemahaman perencanaan keluarga, dan isu kemiskinan pastinya. Kompleks sekali hanya dengan mengambil satu potret sebuah keluarga. Cerminan kehancuran sistem pemerintahan negara ini, yang katanya kaya raya dengan sumber daya alamnya yang melimpah.. Ahh, gombal!!
Maraah banget baca secuil kisah ini… Ga tau aku bisa ngebantu apa untuk saat ini. Muak banget rasanya setelah aku slese baca dan ngebalik halaman koran, ada berita perkembangan kasus suap milyaran rupiah dari Jaksa Urip, AARRGGHH…!! sucks!….how so unfair… :(



| comments |